Venomous Tongue Chapter 3 Bahasa Indonesia

Diterjemahkan : Hito人
Diedit : Liscia

Pengusaha Muda Yang Tidak Diketahui Gadis Itu


“Imouto, apa kau punya saran untuk ku tentang apa yang harus kulakukan terhadap gadis dengan mulut yang buruk?”

 

“Kenapa kau tidak membuatnya pergi ke sekolah perempuan yang menangani masalah seperti itu”

 

“Biarkan aku mengatakan ini, sekolah itu pasti akan hancur”

 

Adikku bisa dikategorikan gadis yang aktif. Karena itu, aku kira aku bisa meminta saran karena dia bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda

 

Aku memang mengatakan kalau komunikasi dan percakapan itu penting, tapi diantara kami berdua saat sekolah selesai, hanya aku yang memenuhi persyaratan tersebut. Jika aku melanjutkan percakapan sendiri, pasti setidaknya akan ada kemajuan, akan tetapi jika sesuatu telah menjadi kebiasaan, itu hanya akan memperburuk lagi. Aku ingin menghindari itu.

 

“Tipe orang seperti apa dia? Apa mulutnya benar-benar seburuk itu?”

 

“aah. Ada banyak legenda tentang itu, kau lihat. Ketika murid laki-laki mencoba bertindak akrab dan berbicara dengannya, dia akan menjawab “kau membuatku mual. Pergi sana. Untuk seseorang sepertimu aku akan membuangmu seperti sampah. Tempat pembakaran sampah mungkin lebih baik”. Murid yang datang dengan sikap positif selalu berakhir tercengang, jatuh kelantai seperti cumi kering”.

 

“Itu penolakan yang cukup ekstrim. Apa kau baik-baik saja, Onii-chan?”

 

“Berhubung aku tipe orang yang tidak mudah tersakiti oleh kata-kata, aku baik-baik saja. Lagipula aku ini orang yang melontarkan candaan secara acak. Secara tiba-tiba dipanggil sampah itu hanya permulaan. Maksidku, hanya dengan pulang kerumah sudah membuatku pulih sempurna, jadi secara teori, bisa dibilang kalau aku ini tak terkalahkan”

 

“Aku tidak bisa bertemu sesering dulu mulai sekarang, aku mungkin akan mengambil energimu sangat banyak”

 

Adikku duduk di sofa. Saat kakak beradik duduk berdampingan, menonton televisi dan saat gambar itu menempel di otak kami, adikku bergumam.

 

“Nii-chan, apa kau tidak ikut klub?”

 

“Itu sebabnya, selalu aku yang mengucapkan “selamat datang”. Aku tidak pernah mendengar adikku mengatakan sesuatu seperti itu... Anj*r!”

 

“Kata mu tersensor disana.... Kenapa kalian tidak mecoba ikut klub? Kalian berdua. Kalian akan mempunyai kesempatan untuk melakukan lebih banyak komunikasi dan percakapan,kan? Kau juga akan mendapatkan lebih banyak koneksi pribadi”

 

“Itu mungkin bagus, tapi aku tidak berniat untuk bergabung ke klub. Aku yakin jika aku melakukannya itu akan menjadi klub hantu hanya dalm tiga detik. Terlebih lagi, jika aku bergabung klub sekarang,tahun depan akan dipenuhi dengan tes masuk, semuanya sudah terlambat.”

 

Aku mengatakan semua itu dengan menyesal. Itu benar-benar ide yang bagus, tapi mustahil untuk bergabung ke klub. Selain itu, kegiatan klub itu terlalu banyak usaha. Jika aku berakhir di lingkungan seperti itu, aku akan terevaporasi dalam sekejap. Dengan tinggiku 180 cm, aku berakhir dengan banyak undang bergabung ke klub olah raga, tapi aku menolak semuanya. Aku tidak bisa membiyarka itu menghalangi waktuku setelah sekolah. Aku tidak bisa membiyarkan mereka mencampuri urusanku. Selain itu, semua itu melelahkan.

 

Di suasan yang serius seperti itu, Arina mungkin akan mengaum seperti macan mencengkram mangsanya, tapi sayangnya aku tidak mempunyai energi yang sama. Mari bergerak dengan mudah saja. Damai itu yang terbaik.

 

“Lalu, kenapa tidak membantu kegiatan klub saja, aku kadang berpikir

 

jika saja kita mempunyai satu orang lagi”. Bagaimana meurutmu membantu dengan cara seperti itu?”

 

Jadi begitu, itu mungkin bagus. Aku tidak perlu bergabung, dan itu akan menjadi cara yang bagus bagi Arina untuk berinteraksi dengan orang lain. Untuk klub sendiri, pasti akan mendapat bebrapa manfaat dari bantuan extra.

 

“aku ambil itu. Apakah akan ada biaya untuk menggunakan idemu itu?”

 

“Aku menganggap itu gratis, jadi tidak apa-apa”

Mari lakukan ini, aku harus berbicara dengan Akakusa-sensei secepatnya

 

 

Terdapat waktu luang saat makan siang. Setelah menyelesaikan waktu makan ku dengan Makoto(hanya makan makanan kemasan), aku menuju keruang staff

 

“Akakusa-sensei, apa kau luang?”

 

“Hmmm?Sui-kun?ada apa?”

 

Aku memberitahu akakusa-sensei tentang rencana yang dipikirkan adikku, aku mencoba menawarkan idenya seperti seorang sales, mengatakan kalau itu akan mempunyai pengaruh yang baik untuk Arina.

 

Kenyataannya, ada banyak hal yang tidak akan kau mengerti kecuali kau melakukannya, tapi ada banyak hal yang dapat kau pahami lebih baik hanya dengan melakukannya. Membaca itu penting, tapi ada banyak hal yang tidak bisa tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata yang akan aku rekomendasikan ke Arina

 

“bukankah itu baik-baik saja?”

“Beneran?”

“Iya. Maaf, sepertinya lebih banyak pekerjaan, tapi lakukan yang terbaik!”

“Baik”

 

Setelah diberi persetujuan, aku meninggalkan ruang staff dengan puas.

 

Sekarang, klub apa butuh bantuan dari luar. Jika tidak ada permintaan, maka bantuan kami akan menjadi tidak berguna. Itulah kenapa, dengan sisa waktu makan siang, saatnya mencari tahu klub mana yang membutuhkan bantuan. Setelah kembali ke kelas, aku menanyakan makoto tentang itu.

 

“Apakah klub badminton mempunyai masalah kekurang orang?”

“Hmmm...Tidak juga”

 

“Beneran?”

 

“kenapa?”

 

“Yah, sebenarnya....”

 

Aku menghentikan diriku saat berbicara. Itu tadi berbahaya. Kalau tidak salah, makoto adalah salah satu orang yang menyatakan perasaanya ke Arina. Dia menyatakan perasaannya di pertengahan kelas satu SMA. Aku tidak berada disana melihatnya secara langsung,tapi aku mendengar dia ijin dari klub hari itu. Sepertinya dia sangat depresi. Sehingga aku tidak ingin menyentuh hal itu. Aku tidak punya hobi untuk membuka luka lama.

 

“ Aku punya waktu luang jadi aku ingin tahu jika kau butuh bantuan.Hanya itu”

 

“Apa itu, Sui? Apa kau tiba-tiba ingin iku kegiatan klub?”

 

“Tidak tidak, aku hanya iseng saja”

 

Berikutnya, aku memutuskan untuk bertanya Namiki Shirona, orang yang bersekolah di SMP yang sama denganku. Shirona berada di kelas sebelah. Dengan kata lain, di kelas yang sama dengan Arina.

 

Aku memikirkna ini setiap saat, tetapi pergi ke kelas lain terasa aneh. Terasa susah untuk masuk atau semacamnya. Ada banyak sekali murid, sehingga kelas lain terisi dengan orang yang tidak kau kenal. Jadi itu terasa seperti dunia lain.

 

Mengumpulkan keberanianku, aku berjalan melewati pintu. Dunia tak dikenal dengan cepat terbuka dihadapanku. Seperti yang ku kira, lingkungan nya berbeda. Menggerakan kepala ku ke sekitar mencari Shirona, aku menemukan grub berisi tiga perempuan tengah mengobrol. Disitu dia berada

 

“Shirona, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

 

“Ah, Sui, ada apa?”

 

“Eh! Shirona apakah itu pacarmu?”

 

Gadis-gadis di smaping membuat keributan. Shirona dengan cepat dan putus asa menyangkal pernyataan mereka.

 

“Ada apa? Sudah lama sejak terakhir kita berbicara”

 

“Itu benar, kita berakhir di kelas yang berbeda, dan itu sangat sulit untuk menyesuaikan dengan teman sekelas yang baru dan segalanya”

 

“Heeh, dia nampaknya punya hubungan yang bagus dengan shirona, kan?

 

Gadis ini benar-benar suka berbicara...

 

“Tidak ada apa apa antara aku dan shirona. Kami hanya berasal dari SMP yang sama, ya kan?”

 

“I-iya”

 

Kenapa dia tergagap disana

 

“Aku Yuuri. Hiiragi Yuuri. Senang  bertemu dengan mu”

 

Selanjutnya, gadis energik di sebelahnya angkat bicara

 

“Aku Miyanak Ran. Senang bertemu denganmu”

 

Ada apa dengan parade perkenelan diri ini. Aku kesini hanya karna ada urusan dengan Shirona. Namun aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti arus

 

“aku sakaki sui. Aku dari kelas sebelah.”

 

“Apa yang membuatmu kesini, Sui?” Shirona bertanya

 

“Shirona, kau ikut klub tenis ringan perempuan, kan? Apa kau punya sesuatu yang membutuhkan lebih banyak bantuan?”

 

“Hmmm”

 

Shirona berpikir tentang itu. Saat itu terjadi, aku melihat sekeliling kelas. Sepertinya Arina tidak ada disini.

 

“Jika aku harus mengatakannnya..”

 

“Oh, beritahu aku, apa itu?”

 

“Klub kami, tidak mempunyai banyak orang. Disana terlalu banyak bola yang digunakan saat berlatih dari pada ornag yang menerimanya, jadi itu menjadi sangat tidak efisien”

 

“Jadi begitu, dengan kata lain kalian butuh orang untuk mengambil bola”

 

“Yah, sesuatu seperti itu”

 

“apakah baik-baik saja untuk kami bantu? Itu akan berakhir menjadi pekerja sukarela”

 

“Eh, beneran? Ini akan sulit. Terlebih lagi, tidak hanya kamu, Sui?”

 

“Akan ada satu gadis lagi yang akan membantu. Dia seharusnya mempunyai kemampuan yang bagus dan atletis, jadi seharusnya cukup. Bagaimana menurutmu?”

 

“Ada apa dengan pujian itu...?”

 

“Untuk ku, aku akan sangat berterima kasih mempunyai orang untuk mengambil bola”

 

Yuuri angkat bicara. Ternyata dia juga bagian klub tenis ringan

 

“Oh. Kalau begitu, Shirona-san, apa bisa anggap itu sebagai kesepakatan?”

 

“Hmmm. Itu bagus, kan Yuuri?”

 

“Sepenuhnya oke. Malahan, itu sangat disambut”

 

“Bagus!”

 

Aku sangat senang bisa mendapatkan satu kesepakatan. Apakah ini rasanya manjadi salesman? Ini adalah dunia yang penuh dengan muslihat.


Sebelumnya | Index

Posting Komentar

0 Komentar