Pengusaha Muda Yang Tidak Diketahui Gadis Itu
“Imouto,
apa kau punya saran untuk ku tentang apa yang harus kulakukan terhadap gadis
dengan mulut yang buruk?”
“Kenapa
kau tidak membuatnya pergi ke sekolah perempuan yang menangani masalah seperti itu”
“Biarkan
aku mengatakan ini, sekolah itu pasti akan hancur”
Adikku
bisa dikategorikan gadis yang aktif. Karena itu, aku kira aku bisa meminta
saran karena dia bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda
Aku
memang mengatakan kalau komunikasi dan percakapan itu penting, tapi diantara
kami berdua saat sekolah selesai, hanya aku yang memenuhi persyaratan tersebut.
Jika aku melanjutkan percakapan sendiri, pasti setidaknya akan ada kemajuan,
akan tetapi jika sesuatu telah menjadi kebiasaan, itu hanya akan memperburuk
lagi. Aku ingin menghindari itu.
“Tipe
orang seperti apa dia? Apa mulutnya benar-benar seburuk itu?”
“aah. Ada
banyak legenda tentang itu, kau lihat. Ketika murid laki-laki mencoba bertindak
akrab dan berbicara dengannya, dia akan menjawab “kau membuatku mual. Pergi sana. Untuk seseorang sepertimu aku akan
membuangmu seperti sampah. Tempat pembakaran sampah mungkin lebih baik”.
Murid yang datang dengan sikap positif selalu berakhir tercengang, jatuh
kelantai seperti cumi kering”.
“Itu
penolakan yang cukup ekstrim. Apa kau baik-baik saja, Onii-chan?”
“Berhubung
aku tipe orang yang tidak mudah tersakiti oleh kata-kata, aku baik-baik saja.
Lagipula aku ini orang yang melontarkan candaan secara acak. Secara tiba-tiba
dipanggil sampah itu hanya permulaan. Maksidku, hanya dengan pulang kerumah
sudah membuatku pulih sempurna, jadi secara teori, bisa dibilang kalau aku ini
tak terkalahkan”
“Aku
tidak bisa bertemu sesering dulu mulai sekarang, aku mungkin akan mengambil
energimu sangat banyak”
Adikku
duduk di sofa. Saat kakak beradik duduk berdampingan, menonton televisi dan
saat gambar itu menempel di otak kami, adikku bergumam.
“Nii-chan,
apa kau tidak ikut klub?”
“Itu
sebabnya, selalu aku yang mengucapkan “selamat datang”. Aku tidak pernah
mendengar adikku mengatakan sesuatu seperti itu... Anj*r!”
“Kata mu
tersensor disana.... Kenapa kalian tidak mecoba ikut klub? Kalian berdua.
Kalian akan mempunyai kesempatan untuk melakukan lebih banyak komunikasi dan
percakapan,kan? Kau juga akan mendapatkan lebih banyak koneksi pribadi”
“Itu
mungkin bagus, tapi aku tidak berniat untuk bergabung ke klub. Aku yakin jika
aku melakukannya itu akan menjadi klub hantu hanya dalm tiga detik. Terlebih
lagi, jika aku bergabung klub sekarang,tahun depan akan dipenuhi dengan tes
masuk, semuanya sudah terlambat.”
Aku
mengatakan semua itu dengan menyesal. Itu benar-benar ide yang bagus, tapi
mustahil untuk bergabung ke klub. Selain itu, kegiatan klub itu terlalu banyak
usaha. Jika aku berakhir di lingkungan seperti itu, aku akan terevaporasi dalam
sekejap. Dengan tinggiku 180 cm, aku berakhir dengan banyak undang bergabung ke
klub olah raga, tapi aku menolak semuanya. Aku tidak bisa membiyarka itu
menghalangi waktuku setelah sekolah. Aku tidak bisa membiyarkan mereka
mencampuri urusanku. Selain itu, semua itu melelahkan.
Di suasan
yang serius seperti itu, Arina mungkin akan mengaum seperti macan mencengkram
mangsanya, tapi sayangnya aku tidak mempunyai energi yang sama. Mari bergerak
dengan mudah saja. Damai itu yang terbaik.
“Lalu,
kenapa tidak membantu kegiatan klub saja, aku kadang berpikir
“jika saja kita mempunyai satu orang lagi”.
Bagaimana meurutmu membantu dengan cara seperti itu?”
Jadi
begitu, itu mungkin bagus. Aku tidak perlu bergabung, dan itu akan menjadi cara
yang bagus bagi Arina untuk berinteraksi dengan orang lain. Untuk klub sendiri,
pasti akan mendapat bebrapa manfaat dari bantuan extra.
“aku
ambil itu. Apakah akan ada biaya untuk menggunakan idemu itu?”
“Aku
menganggap itu gratis, jadi tidak apa-apa”
Mari
lakukan ini, aku harus berbicara dengan Akakusa-sensei secepatnya
Terdapat
waktu luang saat makan siang. Setelah menyelesaikan waktu makan ku dengan
Makoto(hanya makan makanan kemasan), aku menuju keruang staff
“Akakusa-sensei,
apa kau luang?”
“Hmmm?Sui-kun?ada
apa?”
Aku
memberitahu akakusa-sensei tentang rencana yang dipikirkan adikku, aku mencoba
menawarkan idenya seperti seorang sales, mengatakan kalau itu akan mempunyai
pengaruh yang baik untuk Arina.
Kenyataannya,
ada banyak hal yang tidak akan kau mengerti kecuali kau melakukannya, tapi ada
banyak hal yang dapat kau pahami lebih baik hanya dengan melakukannya. Membaca
itu penting, tapi ada banyak hal yang tidak bisa tidak bisa diungkapkan lewat
kata-kata yang akan aku rekomendasikan ke Arina
“bukankah
itu baik-baik saja?”
“Beneran?”
“Iya.
Maaf, sepertinya lebih banyak pekerjaan, tapi lakukan yang terbaik!”
“Baik”
Setelah
diberi persetujuan, aku meninggalkan ruang staff dengan puas.
Sekarang,
klub apa butuh bantuan dari luar. Jika tidak ada permintaan, maka bantuan kami
akan menjadi tidak berguna. Itulah kenapa, dengan sisa waktu makan siang,
saatnya mencari tahu klub mana yang membutuhkan bantuan. Setelah kembali ke
kelas, aku menanyakan makoto tentang itu.
“Apakah
klub badminton mempunyai masalah kekurang orang?”
“Hmmm...Tidak
juga”
“Beneran?”
“kenapa?”
“Yah,
sebenarnya....”
Aku
menghentikan diriku saat berbicara. Itu tadi berbahaya. Kalau tidak salah,
makoto adalah salah satu orang yang menyatakan perasaanya ke Arina. Dia
menyatakan perasaannya di pertengahan kelas satu SMA. Aku tidak berada disana
melihatnya secara langsung,tapi aku mendengar dia ijin dari klub hari itu.
Sepertinya dia sangat depresi. Sehingga aku tidak ingin menyentuh hal itu. Aku
tidak punya hobi untuk membuka luka lama.
“ Aku
punya waktu luang jadi aku ingin tahu jika kau butuh bantuan.Hanya itu”
“Apa itu,
Sui? Apa kau tiba-tiba ingin iku kegiatan klub?”
“Tidak
tidak, aku hanya iseng saja”
Berikutnya,
aku memutuskan untuk bertanya Namiki Shirona, orang yang bersekolah di SMP yang
sama denganku. Shirona berada di kelas sebelah. Dengan kata lain, di kelas yang
sama dengan Arina.
Aku
memikirkna ini setiap saat, tetapi pergi ke kelas lain terasa aneh. Terasa
susah untuk masuk atau semacamnya. Ada banyak sekali murid, sehingga kelas lain
terisi dengan orang yang tidak kau kenal. Jadi itu terasa seperti dunia lain.
Mengumpulkan
keberanianku, aku berjalan melewati pintu. Dunia tak dikenal dengan cepat
terbuka dihadapanku. Seperti yang ku kira, lingkungan nya berbeda. Menggerakan
kepala ku ke sekitar mencari Shirona, aku menemukan grub berisi tiga perempuan
tengah mengobrol. Disitu dia berada
“Shirona,
bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
“Ah, Sui,
ada apa?”
“Eh!
Shirona apakah itu pacarmu?”
Gadis-gadis
di smaping membuat keributan. Shirona dengan cepat dan putus asa menyangkal
pernyataan mereka.
“Ada apa?
Sudah lama sejak terakhir kita berbicara”
“Itu
benar, kita berakhir di kelas yang berbeda, dan itu sangat sulit untuk
menyesuaikan dengan teman sekelas yang baru dan segalanya”
“Heeh,
dia nampaknya punya hubungan yang bagus dengan shirona, kan?
Gadis ini
benar-benar suka berbicara...
“Tidak
ada apa apa antara aku dan shirona. Kami hanya berasal dari SMP yang sama, ya
kan?”
“I-iya”
Kenapa
dia tergagap disana
“Aku
Yuuri. Hiiragi Yuuri. Senang bertemu
dengan mu”
Selanjutnya,
gadis energik di sebelahnya angkat bicara
“Aku Miyanak
Ran. Senang bertemu denganmu”
Ada apa
dengan parade perkenelan diri ini. Aku kesini hanya karna ada urusan dengan
Shirona. Namun aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti arus
“aku
sakaki sui. Aku dari kelas sebelah.”
“Apa yang
membuatmu kesini, Sui?” Shirona bertanya
“Shirona,
kau ikut klub tenis ringan perempuan, kan? Apa kau punya sesuatu yang
membutuhkan lebih banyak bantuan?”
“Hmmm”
Shirona
berpikir tentang itu. Saat itu terjadi, aku melihat sekeliling kelas.
Sepertinya Arina tidak ada disini.
“Jika aku
harus mengatakannnya..”
“Oh,
beritahu aku, apa itu?”
“Klub
kami, tidak mempunyai banyak orang. Disana terlalu banyak bola yang digunakan
saat berlatih dari pada ornag yang menerimanya, jadi itu menjadi sangat tidak
efisien”
“Jadi begitu,
dengan kata lain kalian butuh orang untuk mengambil bola”
“Yah,
sesuatu seperti itu”
“apakah
baik-baik saja untuk kami bantu? Itu akan berakhir menjadi pekerja sukarela”
“Eh,
beneran? Ini akan sulit. Terlebih lagi, tidak hanya kamu, Sui?”
“Akan ada
satu gadis lagi yang akan membantu. Dia seharusnya mempunyai kemampuan yang
bagus dan atletis, jadi seharusnya cukup. Bagaimana menurutmu?”
“Ada apa
dengan pujian itu...?”
“Untuk
ku, aku akan sangat berterima kasih mempunyai orang untuk mengambil bola”
Yuuri
angkat bicara. Ternyata dia juga bagian klub tenis ringan
“Oh.
Kalau begitu, Shirona-san, apa bisa anggap itu sebagai kesepakatan?”
“Hmmm.
Itu bagus, kan Yuuri?”
“Sepenuhnya
oke. Malahan, itu sangat disambut”
“Bagus!”
Aku
sangat senang bisa mendapatkan satu kesepakatan. Apakah ini rasanya manjadi
salesman? Ini adalah dunia yang penuh dengan muslihat.

0 Komentar
Stay with Liscia Novel #Romcom