Apakah kakakku benar-benar pergi membeli es krim hanya
karena iseng?
Seketika keraguan dan kecemasan mulai tumbuh dalam
diriku. Karena sejak saat itu, kakakku berulang kali keluar larut malam
dan mengajakku makan es krim bersama.
Saat mengerjakan persiapan sesi membaca di sekolah, aku
melirik kakakku. Kakakku sedang menggunakan penggaris untuk menggambar sehingga
dia tampak menonjol. Di meja guru, Nojima-sensei menyematkan kartu
kejutanku di papan tulis dan berkata, “Ayo lakukan yang terbaik!” sambil
tersenyum.
Sejak saat itu, sebagian besar pertemuan osis dikhususkan
untuk memproduksi pertunjukan cerita bergambar. Walaupun keadaan publik
saat ini tidak aman dan kami tidak boleh terlambat pulang sekolah,
Nojima-sensei masih mencari banyak alasan untuk membuat kami bekerja lebih
banyak. Kali ini, dia berkata, “mari fokus menciptakan seni trik dan
menggunting kertas yang terbaik!”
(TN: Rasa ingin mukul guru stonk, guru mana coba yang nyuruh
ngelakuin tugas gk terlalu penting dengan resiko muridnya dibunuh)
Selain itu, mungkin karena kartu kejutanku yang menjadi
contohnya, kualitas yang dibutuhkan sangat tinggi. Kartu milikku hanya
berukuran sebesar kartu pos, tetapi cerita yang akan digambar dibuat dari dua
kertas gambar. Waktu produksi seharusnya lebih lama, tetapi untuk beberapa
alasan, Nojima-sensei mendengar bahwa aku hanya membutuhkan satu hari untuk
menyelesaikan kartu kejutanku dan sangat antusias bahwa itu akan selesai lebih
cepat jika semua orang melakukannya.
Aku pikir situasi ini adalah yang paling buruk. Sudah
kurang dari dua minggu sebelum sesi membaca, dan suasana semakin
memburuk. Pada awalnya, kakakku berusaha untuk memperbaiki mood yang
berat, tetapi akhir-akhir ini, dia hanya berusaha untuk bekerja dengan wajah lelah.
"Katakan, apakah kamu benar-benar berpikir kita akan
mengadakan sesi membaca?"
Saat aku melukis latar belakang cerita bergambar, Iwai
bertanya dari samping. Dia mendekatiku sambil memastikan bahwa
Nojima-sensei sedang membantu anak kelas dua mengecat.
"Ibuku terus bertanya-tanya, penjahatnya masih belum
tertangkap, apa yang dipikirkan oleh pihak sekolah dengan membiarkan sekolah
tetap buka."
“Orang tuaku juga.”
Orang tuaku juga khawatir tentang sesi
membaca. Meskipun yang paling aku khawatirkan adalah kakakku, masih belum
ada tanda-tanda ditemukannya penjahat dari pembunuhan berantai yang terjadi di
sekitar sini.
Kejahatan itu sendiri tampaknya terkonsentrasi di sore dan
malam hari. Ini tidak seperti aku diberitahu setiap hari kalau, "itu
masih ada di siaran berita, jadi pergi ke sesi membaca itu
berbahaya!" tapi aku akan lebih khawatir jika masih seperti ini.
Itu tidak diceritakan di manga, tapi aku memiliki peran yang
tidak menyenangkan untuk menjadi mayat yang dihancurkan oleh kakakku tahun
depan. Dan kakakku memiliki peran terburuk sebagai orang yang mengadakan
permainan kematian untuk teman sekelasnya.
Itu sebabnya aku tidak berpikir kalau aku akan mati saat ini
... Tapi baru-baru ini kakakku berpura-pura menjadi seseorang yang suka es, dan
berkata, "Aku ingin makan es krim," dan keluar di tengah malam
melakukan hal-hal aneh.
“Hei, di sana, jangan mengobrol. Dan Mai-chan, jika
Mai-chan tidak melakukan yang terbaik, sensei akan merasa bermasalah.”
(TN: Mulut ni guru minta dimasukin lem anj... )
"Hah…?"
“Yah, Mai-chan sangat pandai membuat kartu, tapi kamu tidak
akan terus bekerja. Meskipun sensei berpikir Mai-chan bisa melakukan lebih
baik dari ini…”
Nojima-sensei menjatuhkan bahunya karena kecewa. Bahkan
jika dia mengatakan hal itu merepotkan. Aku bukanlah pengrajin seni.
Aku ingin melakukan sesi membaca dengan benar, tapi akan ada
permainan kematian. Nyawa 40 teman sekelas kakakku akan dipertaruhkan, dan
kehidupan keluarga yang terlibat dengan 40 siswa itu masih ada di tangan
kakakku. Bahkan jika aku diberitahu dengan antusiasme semacam itu, game
kematian masih menjadi masalah terbesar …
Tetapi bahkan jika aku mengatakannya di sini, sensei tidak
akan mempercayainya, jadi tidak ada pilihan selain mengangguk.
"Oh itu benar. Bagaimana jika Mai-chan melakukan
ini alih-alih mewarnai? Karena mewarnainya terlalu mudah kamu jadi bosan
kan?”
Dengan mengatakan itu, Nojima-sensei menawariku potongan
kertas gambar yang telah dicat. Ini potongan kertas. Bukan hanya satu
lembar, tapi sekitar sepuluh lembar kertas gambar diletakkan di mejaku sambil
berkata, “ini, ini juga”. Apa yang…?
“Mai-chan seharusnya melakukan pemotongan daripada
pewarnaan. Benar, Iwai-kun, bisakah kamu mewarnainya saja?”
“Eh, aku?”
“Ya, Iwai-kun sepertinya senang mewarnai, jadi kupikir kamu benar-benar
ingin melakukannya.”
Nojima-sensei tertawa santai. Jumlah kertas yang perlu
dipotong tidak banyak, tapi sepertinya tidak akan selesai tepat waktu kecuali
aku begadang. Aku melirik ke kakakku, dan dia memberiku wajah
bermasalah. Tapi matanya masih gelap gulita.
“Iwai, berapa persen keinginanmu untuk melakukan sesi
membaca sekarang?”
“Bahkan tidak sedikit pun.”
Kami menghela nafas. Tapi itu dilihat oleh
Nojima-sensei dan pada akhirnya, kami harus mendengarkan pidato 'menyedihkan'
sensei sampai akhir pertemuan osis.
<<>><<>><<>>-:<<>>:-<<>><<>><<>>
Apakah kalian tertarik, kalau tertarik.
Silahkan upvote agar saya tetap semangat buat update chapter baru.
Jika ingin donasi ke saya pribadi bisa dengan trakteer.id/alfa1278
Terimakasih udah baca.
~Alfa~
<<>><<>><<>>-:<<>>:-<<>><<>><<>>
0 Komentar
Stay with Liscia Novel #Romcom