Liburan musim panas telah berlalu dengan sangat cepat dan
semester baru telah dimulai. Aku dan murid lainnya sedang berada di gymnasium
ketika kepala sekolah menyapa dari atas panggung. Tapi tidak ada siapapun yang
mendengarkan, murid-murid yang berdiri di belakangku sedang menyalin PR murid
lain, dan di barisan kelas lainnya, terdapat beberapa murid yang berkeliling
untuk membagikan souvenir.
Kepala sekolah menanyai apakah semua orang ingat apa yang
dia katakan sebelum liburan musim panas, tapi tampaknya tidak ada yang
mengngatnya.
Sedangkan untukku, aku sedang memberitahukan temanku tentang
apa yang kulakukan kepadaku saat liburan musim panas.
Aku pikir dia akan menikmati ceritanya, tapi ketika dia
mendengar entang konstruksi don=mino yang kubuat, dia menjadi pucat.
“Mai-chan... Apakah kau membenci kakakmu?”
Rambut keriting Yukari bergoyang saat dia memiringkan
kepalanya. Kulit putih dan wajah manisnya membuat dia tampak seperti boneka.
“Tidak. Aku ingin menghibur kakakku.”
“Apa, dia akan berburuk sangka terhadapmu... itu sudah jelas
terlihat kalau kau mengganggu dia dengan membangun domino di segala tempat di
kamarnya.”
“Tak apa. Itu tidak kulakuka setiap hari. Aku merancangnya
agar kakakku tidak bosan, aku juga melakukan mokugyo dan bungee.”
Setelah orang tuaku melarang diriku untuk pergi keluar, aku
tetap melanjutkan untuk memberikan kejutan pada minggu terakhir dari liburan
musim panas. Pada hari pertama, aku membuat domino menggunakan seluruh benda
rumah, dan di hari berikutnya, aku membuat teka-teki dengan menggunakan kardus.
Pada hari ketiga, aku menggali lubang besar. Aku pikir aku akan menggali
jebakan, tapi tidak peduli sesempurna apa aku membuatnya, itu tetap berbahaya.
Itulah kenapa aku membuatnya bisa dilihat jelas.
“Itu bukanlah jawaban... dan mokugyo-nya, itu adalah salah
satu dari apa yang ayahku pakai, bukan begitu? Bukankah itu sangat berisik...?
Ngomong-omong, aku ingat ayahku bernah berkata kalau Mai-chan daang ketempatku,
jangan katakan kalau...”
“Yup! Aku telah diberi yang sudah tua!”
Rumah Yukari adalah kuil, dan ayahnya adalah seorang biksu.
Aku ingin mengejutkan kakakku dengan tiba-tiba membuat suara makugyo di rumah.
Jadi aku diam-diam menyelinap keluar rumah, pergi kerumah Yukari-chan, dan
membawa kembali sebuah makugyo. Ayah Yukari memberiku sebuah makugyo tua, jadi
aku memngikatnya dengan tiga tongkat untuk membuat suaranya lebih kencang dari
pada seharusnya dan menggemakannya di dalam kamar kakakku.
“Bukankah itu akan mengganggu tetanggamu? Tidakkah ibumu
memarahimu?”
“Itu baik-baik saja! Aku membuat eredam suara yang
sempurna.”
“Lalu, apa itu bungee...?”
Pada hari kelima, aku membuat sebuah bungee jump dari balkon
di lantai kedua kearah kakakku yang sedang di kebun. Aku telah memperhitungkan
jaraknya untuk mematiskan kalau aku tidak akan mengenai kakakku. Dan, meskipun
ini terdengar mustahil, aku sudah sangat yakin dimana tempat kakakku akan
berada, dan aku tidak akan bertabrakan meski dia datang untuk meminta bantuan.
Lalu, setelah menarik perhatian kakakku, aku berpura-pura
kembali ke kamarku dan pergi ke kelantai satu. Aku mewarnai wajahku dengan
bulpen warna-warni dan memanjat pipa rumah menuju ke balkon lantai dua dimana
kakakku berada.
(TN: Rada stress juga ya)
“Yah, bungee adalah bungee. Dan karena itu, aku menghabiskan
hari terakhir dari liburan musim panasku dengan membantu ibuku seharian...”
“Jadi kemarin, orang tuamu akhirnya marah... Jika itu adalah
kakakku, rambutku pasti sudah dipotong botak...”
Kemarin, hari krtujuh, orang tuaku mengetahui tentang semua
yang kulakukan. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, tapi semua yang
tidak dapat kulakukan hanyalah domino, labirin, bungee, mokugyo, gambar wajah,
dan memanjat pipa. Aku bisa tetap melakukan hal lainnya.
“Oh, itu kakakku.”
Setelah perkataan panjang dari kepala sekolah, giliran ketua
osis. Walaupun dia adalah psikopat, kakak sempurna dan bersahabat telah
terpilih sebagai perwakilan yang dipilih oleh sebagian besar murid dalam
pemilihan.
“Namaku adalah Kurobe Makoto, dan aku adalah ketua osis.”
Saat kakakku berdiri di depan microphone di tempat yang sama
dimana kepala sekolah berdiri, semua orang yang tidak mendengarkan kepala
sekolah sebelumnya sekaran mulai mengalihkan perhatian mereka pada kakakku.
Bahkan para murid yang sedang mengerjakan PR mereka juga menaikkan wajah mereka
walaupun mereka tidak akan menyelesaikannya tepat waktu jika mereka tidak
menggerakkan tangan mereka.
“Liburan musim panas di bulan agustus telah usai, dam ini
sudah bulan September. Langsung pada topiknya, terdapat pemberitahuan dari
osis. Pada awal Oktober, ada sesi membaca tahunan di taman kanak-kanak. Siswa yang ingin
berpartisipasi dimohon untuk mendaftar di osis atau menghadiri pertemuan
sepulang sekolah.”
Di sekolah ini, anggota osis diwajibkan untuk mengikuti
setiap acara sekolah. Semenjak semua orang tidak ingin melakukannya, jadi
sekolah hanya memasukkan siswa yang cukup antusias sebagai anggota osis.
Kakakku, yang mana sudah berada di osis hingga akhir tahun, sering keluar rumah
untuk melakukan kegiatan.
“Lalu, Mai-chan juga akan berpartisipasi dalam sesi membaca
tahun ini?”
“Ya...”
Aku tidak pernah membayangkan kalau kakakku adalah seorang
psikopat, jadi aku bergabung ke psis sambil berkata, “Aku ingin melakukannya
bersama dengan Onii-chan!” dan itu adalah bagaimana aku mendapatkan posisi
sebagai wakil ketua. Meskipun aku berencana untuk menyiapkan kejutan berikutnya
setelah pulang sekolah, tapi tampaknya di bulan September ini, aku akan sibuk
dengan persiapan untuk sesi membaca.
“Tapi aku tidak ingin tinggal di sekolah untuk sesi
membaca...”
“Yukari bisa membantu illustrasinya, tapi untuk membacanya
keras-keras, itu mustahil untukku...”
“Lalu, bisakah aku meneleponmu jika aku perlu menggambar
sesuatu, Yukari-chan?”
Yukari tertawa dengan pertanyaanku sambil berkata, “tentu
saja.” Memiliki seorang teman baik adalah anugrah. Terima kasih Yukari-chan.
Ketika aku merasa bersyukur, kakakku juga telah menyelesaikan penjelasanny dan
kembali ke barisan kelasnya.
Walaupun pengenalan diri dari para guru magang telah
dimulai, semua orang disekitarku mulai menghabiskan waktu mereka dengan benas.
Para murid yang menatap kakakku beberapa saat uang lalu, mulai kembali menyalin
PR mereka. Bagaimanapun juga, karisma milik kakakku memang mengerikan. Dia
memiliki nilai yang menakjubkan dan bisa berinteraksi dengan siapapun tanpa
terkecuali. Aku pikir ada beberapa hal yang aku rindukan dari kakakku.
Di manga, ketika dia berada di tahun pertama SMA, dia
menyebabka sebuah tragedi, membunuh orang, dan mati. Tapi jika dia hidup tenpa
menyebabkan tragedi, dia mungkin akan menjadi orang yang benar-benar luar
biasa. Ketika membayangkan kakakku di masa depan dalam diam, upacara pembukaan
telah usai.
* * *
Pada akhirnya, prediksiku benar. Kertas jadwal membaca telah
di bagikan pada pertemuan osis yang mengatakan bahwa akan di adakan pertemuan
tiga minggu sekali untuk latihan sesi membaca.
Ketika mendengarkan penjelasan kakakku yang berdiri di
depanku, aku mencoba untuk tidak mengeluarkan suara aneh. Di sisi lain kelas,
di sebelah Mibuchi-sensei, seorang penanggung jawab osis, merupakan seroran
guru bernama Nojima. Dia telah memperkenalkan diri di upacara pembukaan.
Mibuchi-sensei adalah guru tua yang dipanggil kakek oleh semua orang, dan Nojima-sensei
yang datang sebagai guru magang adalah seorang wanita muda.
Ketika aku melihat kearah dua orang yang kontras, aku di
colek dengan pensil mekanik dari sampingku. Aku berbalik, Iwai, yang mana
merupakan harta karun osis dari kelas sebelah, menatapku dengan curiga.
“Apa yang terjadi padamu hari ini? Apakah kau doppelganger
atau semacamnya?”
“Apa?”
“Bukankah kau selalu tergila-gila dengan kakakmu? Kau
terlihat sangat lesu hari ini.”
Saat aku medengar kata-kata Iwai, aku tanpa sadar
mengangguk. Tentu saja, aku sangat tergila-gila dengan kakakku sampai sebelum
liburan musim panas. Aku selalu mengikuti “Onii-chan” di dalam sekolah maupun
di luar sekolah. Tapi hari-hari yang kudambakan untuk kakakku sekarang telah
berakhir.
Jika aku mengikutinya kemana saja seperti sebelumnya, aku
akan berakhir di pemakaman dengan keadaan tubuhku yang mengerikan seakan-akan
telah dimasukkan dari blender. Mulai dari sekarang, ini adalah waktu untuk
menjaga jarak dengan baik dan memberikan kejutan dari pada keramahan hati.
“Itu semua karena musim panas.”
“Huh?”
“Kau disana, aku tengah menjelaskan sekarang, jadi tolong
diam sejenak.”
Kakakku seketika mengingatkanku. Aku merasa marah kepada
Iwai. Bagaimana jika aku menyebabkan kakakku strees dan dimasukkan kedalam
blender lebih ceat dari yang direncanakan? Ketika aku protes kepada Iwai dengan
menggunakan mataku, dia terlihat meminta maaf. Ketika aku mendapatkan kembali
ketenanganku dan memperhatikan penjelasan kakakku, Nojima-sensei, yang tengah
berdiri di dinding di pinggir kelas, mengangkat tangannya sambil berkata.
“Minta waktunya sebentar”.
“Aku telah berpikir, kenapa kau tidak melakukan sesuatu yang
sedikit berbeda tahun ini? Itu membosankan jika melakukan hal yang sama setiap
tahun. Aku pikir itu akan lebih baik untuk mencoba mencoba sesuatu yang baru.”
“Contohnya?”
“Aku tidak bisa memikirkannya saat ini, tapi seperti yang
kau lihat, bukankah ini merupakan sesuatu yang bisa semua orang putuskan dengan
memberikan pendapat? Masih terdapat cukup wakru, ya kan?”
(TN: Tipikal orang ngeselin yang ngebuat sesuatu jadi makin
ribet)
“Aku mengeti.” Kakakku memberikan balasan singkat kepada
kata-kata Nojima-sensei dan membalikkan wajahnya kepadaku.
“Setiap tahun kita hanya membacanya dengan keras, jadi kali
ini kita akan mencoba untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ada yang memiliki
ide?”
Setelah memikirkan tentang pertanyaan bermasalah dari
kakakku, semua orang mulai mengangkat tangan mereka. Setelah mendengar saran
seperti “drama seperti membaca” dan “menambahkan efek suara”, wajah
Njima-sensei menjadi muram.
“Bukankah itu terlalu biasa?”
“Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan...?”
“Lebih seperti, membuat semua orang terkejut? Apakah ada
sesuatu yang menarik?”
Lalu, saran-saran mulai bermunculan lagi. Tapi Nojima-sensei
kelihatannya tidak puas dengan itu.
“Ayo lebih termotivasi lagi! Jika kita memikirkannya
bersama, kita seharusnya akan mendapatkan ide yang bagus!”
Kata-kata Nojima-sensei membuat semua orang, termasuk
kakakku, merasa frustasi. Aku juga merasa sedikit kesal dengannya. Kakakku
membalikkan wajahnya ke arahku dengan wajah yang seakan-akan mengatakan ‘hanya
komplain tanpa memberikan saran apapun, apa yang dia mau dari kita?”
“Mai, apakah kau punya saran?”
Tiba-tiba, topiknya berubah, dan aku berdiri dengan momentum
yang terlalu berlebihan karena kaget. Kakakku sama sekali tidak terkejut dan
melihat kearahku dengan berharap.
Selama dua minggu di hari terakhir liburan musim panas, aku
telah membuat beberapa kejutan seperti menyelam kedalam kolam, domino, dan
labirin. Jadi aku mungkin terlihat seperti sebuah cahaya harapan. Atau mungkin
karena aku telah melakukan hal-hal yang aneh, pada saat ini, kreatifitasku akan
berguna.
“Mu-Mungkin, trick art?”
(TN: Trick art itu semacam pameran ilusi optik yang di
ciptakan di jepang)
Ketika aku berkata dengan nada menderita, wajah
Nojima-sensei menjadi cerah ketika berkata, “itu terdengar bagus”. Ketika aku
melihat kearah Mibuchi-sensei dengan gelisah, dia hanya tersenyum dengan
lembut. Kakakku mengangguk dan berkata, “kalau begitu, ayo kita lakukan itu.”
“Lalu, ayo mulai persiapannya mula dari sekarang. Itu saja
untuk har-“
“Tunggu sebentar!”
Nojima-sensei mengganggu perkataan kakakku dan dengan
tersenyum, “Ayo buat pembacaan yang bagus dan tak pernah dilihat sebelumnya.”
Apakah itu benar-benar penting untuk mengganggu ucapannya?
Semua anggota osis kelihatannya penasaran dan entah bagaimana terdapat
kesunyian yang canggung. Pada akhirnya, semua orang bubar dengan perasaan yang
tidak dapat dijelaskan.
* * *
Setelah matahari terbenam dan cahaya oranye mulai memudar, aku
pulang kerumah dengan kakakku dengan dia menggenggam lengan atasku. Kami pulang
kerumah bersama karena pembunuh berantai di lingkungan sekitar masih belum di
tangkap, tapi kakakku menggenggam tanganku untuk memastikan agar aku tidak
melompat kekolam. Singkatnya, ini pencegahan.
Setelah pertemuan keluarga, ibuku kelihatannya seringkali
menanyai kakakku untuk mengawasiku. Tapi kakakku tidak memperlihatkan
tanda-tanda kalau dia mengawasiku. Dia pada dasarnya meninggalkanku sendirian
dan tidak memberitahukan ibu jika aku aku membuat keributan ataupun membuat
kerajinan dengan palu di kamar. Dia tidak berhati-hati.
Tapi itu bukan berarti kakakku tidak mengawasiku sama
sekali. Ketika orang tua kami berada di sekitar, dia akan dengan enggan
memonitorku. Jadi, dia hanya mengawasiku ketika orang tua kami berada di
sekitar dan tidak akan mengawasi ketika orang tua kami tidak berada di sekitar.
Jika kau berpikir secara normal, itu seharusnya dilakukan
sebaliknya. Tapi untuk kakakku, itu mungkin karena dia pikir kalau orang tua
kami terlalu ikut campur. Aku yakin hari ini, jika aku melompat kedalaam kolam
dan membuat bajuku basah, orang tuaku akan meragukan kemampuan pengawasannya.
Melihat kembali tentang apa yang terjadi dengan pertemuan
membaca hari ini, aku memanggil kakakku.
“Hari ini berat, Onii-chan.”
“...Maksudmu, Nojima-sensei?”
“Ya. Aku tidak bisa bergaul dengan guru itu.”
“Yah, bukankah semua orang seperti itu? Tidak ada murid yang
akan menyukai guru semacam itu, ya kan?”
Kakakku kelihatannya menjadi kesal juga. Jika dia telah
membangunkan sifatnya sebagai psikopat... yang mana saat menyaksikan kucing
tertabrak saat musim dingin. Nojima-sensei mungkin akan menjadi orang pertama
yang akan ditemukan mati di hari berikutnya. Saat aku berjalan melewati taman
di jalan yang memiliki kolam, aku menyadari sesuatu dan menarik tangan kakakku
kembali.
“Onii-chan, aku pikir kita seharusnya tidak mengambil jalan
intas yang gelap.”
“Kenapa?”
“Karena itu sudah gelap?”
Ketika aku melewati jalan ini saat liburan musim panas,
terdapat orang di taman dan lagitnya cerah, jadi itu baik-baik saja. Tapi sekarang
sudah gelap, dan lampu yang terpasang di luar pada tiang biasa tidak dapat di harapkan.
Bayangan dari pohon berwarna hitam, dan garis-garis daun pohon bergesekan.
“Tak usah khawatir.”
“Tapi bagaimana jika kita tiba-tiba di tusuk saat gelap?
Karena pelakunya masih belum di tangkap sekarang.”
“Bukankah terkadang orang akan tiba-tiba di tusuk karena
mereka merubah rute?”
Kakakku tiba-tiba tertawa ketika dia menggodaku. Mungkin
saja, alasan kenapa rasa takutnya sangat lemah adalah, karena kakakku adalah
pelaku aslinya?
Walaupun, sejauh yang kutahu dari berita, dikatakan bahwa
itu adalah kejahatan yang dikarenakan dorongan hati... dan terdapat lumayan
sedikit saksi, aku pikir itu adalah orang yang berbeda...
“Kalau begitu, jika aku terbunuh, aku akan menyalahkanmu,
Onii-chan.”
“Hahaha.”
Tawa kakakku terdengar seperti dia benar-benar
bersenang-senang. Aku berharap apa yang dia senangi di lubuk hatinya berubah,
sesuatu selain membunuh, jika memungkinkan. Contohnya, mengubur keinginan
membunuhnya dengan memotong tuna. Itu juga lezat.
Seperti biasa, kakakku menggenggam tanganku dan
mendampingiku kerumah.
<<>><<>><<>>-:<<>>:-<<>><<>><<>>
Apakah kalian tertarik, kalau tertarik.
Silahkan upvote agar saya tetap semangat buat update chapter baru.
Jika ingin donasi ke saya pribadi bisa dengan trakteer.id/alfa1278
Terimakasih udah baca.
~Alfa~
<<>><<>><<>>-:<<>>:-<<>><<>><<>>
0 Komentar
Stay with Liscia Novel #Romcom