Arc 1 – Berubah Setiap Hari
Bab 16 – Gadis bahagia, aku tidak mengerti
Diterjemahkan : Liscia Novel
Diedit : Liscia Novel
Apa yang aku lakukan? AKU…..
Sehari setelah membantu Momoi, aku berbaring di mejaku saat istirahat makan siang.
Ada penyesalan yang luar biasa.
Alasannya tentu saja, apa yang terjadi kemarin.
Adegan kemarin terbenak dalam pikiranku.
—mengapa….apakah aku memiliki sikap seperti itu?
TLN: tidak akan memakai monolog kaito lagi karena kebanyakan bingung. kalo mau dipake lagi sy jelasin sdkit monolog yg kami pakai disaat kaito memikirkan sesuatu dalam pikiranya dalam hal pertanyaan dalam pikirannya atau bertanya dengan dirinya sendir, itu saja.
Apakah aku keluar dari pikiranku.
Hanya saja aku yang dulu tidak akan bertindak seperti itu!
Tapi–kenapa aku juga malah mengelus kepala Momoi!?
Menakutkan….Aku sudah tegang sepanjang malam, menakutkan…
Karena itu, sulit untuk menghadapi Momoi saat ini, jadi aku pergi dari rumah lebih awal dan tidak sarapan, aku juga tidak menerima bento.
Maksudku Momoi harus bangun pagi-pagi untuk OSIS, jadi aku harusnya tetap di malam hari…
Tidak ada gunanya, kepalaku pusing sejak kemarin.
Aku melihat pesan yang baru saja kuterima dari Sakura-chan.
Bunyinya Karena kau berada di ruang kelas kelas dua, aku meminta onee-chan untuk mengantarkan bentomu.
Aku seperti dikejar arus…
Apakah, akarnya dari apa yang dimulai kemarin…?
Kemarin setelah aku bangun dari tidurku, Momoi yang melewatiku di rumah bahkan tidak menyapaku.
Dia mungkin marah karena aku membelai kepalanya….
Nah jika aku adalah seorang wanita, aku kira aku akan marah jika seseorang yang ku anggap menjijikkan menyentuh rambutku.
Tapi izinkan aku untuk membuat satu alasan.
Dalam perjalanan pulang, Momoi mulai bertingkah seperti Sakura-chan…
Itu sebabnya aku memperlakukannya seolah-olah aku sedang memperlakukan Sakura-chan.
…..Kurasa aku belum pernah mengelus kepala Sakura-chan….
"—hei, apakah kamu punya waktu sebentar?" (???)
Mendengar kata-kata dari atas, aku mengangkat kepalaku.
Apakah pashiri lagi…?
"—tsu!" (Kaito)
Melihat wajah pembicaranya, aku langsung waspada.
Melihat sekeliling, aku bisa melihat siswa lain menatap.
Mereka terkejut bahwa orang ini berbicara kepadaku.
"Ada apa, Saijo?" (Kaito)
Aku menekan suaraku agar siswa lain tidak bisa mendengarku, lalu bertanya pada Saijo.
"Aku ingin berbicara denganmu, ikuti aku" (Saijo)
"Bicara?" (Kaito)
"Itu benar ... mungkin, kamu dalam masalah sekarang, jadi ikuti saja aku" (Saijo)
Aku sedikit bingung harus berbuat apa, tetapi memikirkan hari kemarin, aku memutuskan untuk mengikuti Saijo.
2
—Saijo membawaku ke belakang gimnasium.
……Aku tahu….keputusan ini bodoh….
Orang jarang mendekati tempat ini kecuali saat jam pelajaran pendidikan jasmani.
Saat ini istirahat makan siang.
Dengan kata lain, tidak ada yang akan datang…
Aku melihat Saijo berdiri di depanku, memutar-mutar rambutnya di antara ujung jarinya.
Tidak mungkin, menyelesaikan skor….?
Bukankah dia melebih-lebihkannya ...?
Sejujurnya, aku sangat takut sekarang.
Sebenarnya, aku pandai berolahraga, hanya saja aku tidak menarik perhatian dalam pendidikan jasmani.
Tapi jika beberapa orang datang ke sini, aku akan mati dalam waktu singkat.
….apa ini, manga yankee…?
Ini tidak normal, Saijo tidak bertingkah normal.
Jika pembacaanku tidak aktif, bukankah ini akan menjadi situasi yang berbahaya…?
Namun Saijo tidak menunjukkan ekspresi ketakutan sama sekali.
Jika aku tampak "di bawah" dia di sini, dia mungkin mencoba melakukan sesuatu lagi.
Itu sebabnya, aku harus bertindak seperti pengganggu dengan gadis ini.
"Apa yang akan kau lakukan….?" (Kaito)
Saat aku menatap Saijo, wajahnya menjadi merah karena suatu alasan.
"Kamu tidak harus begitu waspada, aku hanya ingin bicara denganmu" (Saijo)
Kata Saijo sambil tersenyum.
Aku tidak berharap dia akan menunjukkan ekspresi itu kepadaku...
Aku pikir dia akan membenciku ...?
Tapi yang terbaik adalah tetap waspada.
Mungkin saja dia mengambil sikap saat ini untuk membuatku lengah.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" (Kaito)
"Nah sebelum itu, mari kita makan siang bersama ya? Aku membuat dua bento" (Saijo)
TLN: spoiler nih kaito bakal tertidur dan dibawa dah gtu aja.
Mengatakan itu, Saijo benar-benar mengeluarkan 2 kotak bento.
"Eh, masakan rumah? kau bisa memasak meskipun dirimu adalah seorang ojou-sama?" (Kaito)
"Jangan bodoh. Dalam keadaan darurat aku sudah memasak sejak usia dini, atau lebih tepatnya, aku melakukan banyak pekerjaan rumah tangga" (Saijo)
Begitu ya...jika bisnisnya terancam, putrimu masih harus berkualitas untuk menikah...
"Tapi–?" (Kaito)
Aku berhenti sebelum aku mengatkan kalau memiliki bentoku sendiri.
Saat ini Momoi membawakan bento milikku.
Jika Saijo melihatku menerimanya, itu mungkin membuatnya sadar bahwa aku dan momoi adalah keluarga.
Jika itu terjadi, Momoi akan membunuhku….
Mau bagaimana lagi, aku akan makan bento Sakura-chan nanti.
"Tapi mengapa memberiku bento??" (Kaito)
Aku tidak mengerti mengapa dia repot-repot membuatkan satu bento lagi untukku?
"T, tidak ada alasan khusus!?" (Saijo)
TLN: eeeeemmm nah tsun.
Entah bagaimana Saijo tampak gelisah saat dia menjawab.
Tidak mungkin-!
"Apakah itu diracuni ....?" (Kaito)
"Apa!??" (Saijo)
Saijo dengan cepat menjawab pertanyaanku.
"Tidak, aku mengatakan terlalu banyak ketika aku menyebutkan keracunan ... mengandung obat pencahar kan?? (Kaito)
TLN: menurut KBBI, pencahar adalah obat pencuci perut.
"Menurutmu siapa aku !??" (Saijo)
itu…
"Orang yang mencoba menghancurkan Momoi?" (Kaito)
"Uu—?" (Saijo)
Saat aku mengatakan itu, Saijo kehilangan kata-kata.
Aku menatap Saijo.
Dia mengalihkan pandangannya dariku dan perlahan membuka mulutnya untuk berbicara.
"T, ada alasan untuk itu ...." (Saijo)
"Alasan…??" (Kaito)
"Waa, baiklah, aku akan menjelaskannya dengan benar, jadi untuk saat ini mari kita makan! kan??" (Saijo)
Aku mengangguk pada kata-kata Saijo dan duduk di sampingnya.
Tidak ada bangku, jadi kami duduk di tangga menuju pintu masuk gimnasium.
Ketika aku membuka bento yang diberikan Saijo, itu dipenuhi dengan lauk berwarna-warni.
"Subarashii ... apakah kamu benar-benar membuat ini??" (Kaito)
"Ada apa denganmu ... setidaknya aku bisa melakukan nya dengan baik ...?" (Saijo)
Mungkin dia tidak puas dengan kata-kataku, pipinya menggembung.
Aneh bagi seorang gadis pirang untuk mengambil sikap seperti itu.
Namun….apakah ini benar-benar baik-baik saja?
Kelihatannya bagus, tapi aku tidak tahu apakah itu mengandung pencahar…
Tapi aku juga ingin sekali tidak makan mengingat Saijo memperhatikan dengan seksama di sebelahku.
Aku mencoba untuk makan telur dadar.
-manis….
Tapi rasanya benar-benar enak.
Aku hanya pernah makan telur dadar yang dibuat dengan kecap asin, ini pertama kalinya aku membuat telur dadar dengan gula.
"H, bagaimana??" (Saijo)
Saijo melihat ke samping ke arahku, dengan ekspresi antisipasi dan kecemasan.
"Ah, ini sangat enak, jujur ??aku terkejut!?" (Kaito)
Ketika aku menjawab seperti itu, Saijo berkata Yosh–!? dan melakukan pose kecil.
Karena Saijo ada di sebelahku, aku memutuskan untuk langsung ke topik utama.
"Jadi apa yang mau kau bicarakan? Sesuatu tentang Momoi??" (Kaito)
Saat aku bertanya, Saijo mengangguk dan menatap mataku.
Dia perlahan membuka mulutnya.
"Hei, ini karaktermu yang sebenarnya sekarang kan??" (Saijo)
"Karakter sejati…??" (Kaito)
Aku tidak mengerti apa yang dia coba katakan, jadi aku memiringkan kepalaku dengan bingung.
"Jangan bohong, kemarin dan barusan, kamu benar-benar berbeda dari orang yang biasa kamu temui di sekolah. Tidak peduli seberapa besar seorang otaku terluka, aku tidak berpikir bahwa mereka akan banyak berubah. Jadi kamu menggunakan karakter palsumu di sekolah dan orang yang aku ajak bicara sekarang berbeda kan??" (Saijo)
Mata Saijo memberitahuku bahwa dia yakin.
….apakah gadis ini terlalu banyak membaca manga?
Apa yang dia maksud dengan karakter palsu…?
Apakah dia sakit karena chuunibyou?
TLN: Chuunibyou adalah penyakit dengan delusi yang agung dan mulia, intinya alay tapi berbeda dengan anak tiktod/indonesia.
Kepribadian ku saat ini adalah seseorang dengan gangguan komunikasi.
Tidak ada yang salah dengan itu…
"Aku tidak tahu, mungkin kau salah paham tentang sesuatu–?" (Kaito)
"Kotori Haruka?" (Saijo)
Mataku terbelalak mendengar nama yang baru saja dikatakan Saijo.
"Maaf, aku menyelidiki tentangmu. Kau tampaknya tidak berada di tengah-tengah teman sekelasmu sampai pertengahan tahun kedua sekolah menengahmu. Kau menyebabkan insiden di mana mendorong teman sekelasmu keluar jendela. Waktu itu tepat setelah pemindahan Kotori Haruka, yang kamu kenal. Tak lama setelah itu, kamu bolos sekolah. Jadi itulah yang membuatmu terlihat seperti sekarang, kan? Namun, siswa normal tidak akan melakukan itu tanpa alasan. Yah kecuali mereka udah stress. Dengan kata lain, itu karena kepindahannya Kotori Haruka, kan? Aku tahu dia penting bagimu kan?" (Saijo)
Mendengar kata-kata Saijo, aku mengangkat poniku dan melihat ke langit.
Berapa banyak yang dia selidiki hanya dalam setengah hari ...?
Tidak semuanya benar, tetapi sebagian besar benar.
Seperti yang diharapkan dari ojou-san dari kelompok Saijo.
Tapi-
"Tidak sepenuhnya salah, aku menyakiti seorang gadis, lalu kami bertengkar dan teman sekelasku jatuh dari lantai 2 gedung sekolah, itu saja. Aku tidak membuat alasan tentang apakah aku mendorongnya atau tidak. Tapi jika kamu mengorek masa laluku lagi...Aku akan menghancurkanmu, mengerti??" (Kaito)\
TLN: asekkkk enak anjeng asekk dah makin semangat gww ngetranslate ny!!!!
Aku memelototi Saijo dengan pandangan ke samping.
"Y….ya…." (Saijo)
Dia menjawab kata-kataku dengan suara pelan.
Tapi—untuk beberapa alasan, Saijo memiliki wajah merah.
"E, ya…?" (Saijo)
Apakah ini wajah yang biasanya kamu buat saat takut…?
Kenapa dia terlihat sangat bahagia…?
Berbahaya…bagaimanapun juga orang ini berbahaya dalam banyak hal…
"Ma, maa, aku yang sebenarnya adalah yang ada di kelas, tolong jangan punya pemikiran yang aneh?" (Kaito)
"Maa, katakan saja kalau begitu. Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak memotong rambutmu??" (Saijo)
TLN: lu potong rambutlu awas kaito udh gans kan keren aaah kyaaaaaaa
"A, ah ... Aku tidak berpikir aku akan memotongnya untuk saat ini ...?" (Kaito)
…bukankah baru-baru ini aku ditanya seperti itu?
"–karena anak-anak lain tidak bisa mengatasinya?" (Saijo)
"Eh …? suaramu terlalu pelan, aku tidak bisa mendengarnya?" (Kaito)
Saijo mengatakan sesuatu, tapi aku melewatkannya karena aku sedang memikirkan sesuatu.
"T, tidak ada!?" (Saijo)
Karena itu, Saijo berbalik.
Aku ingin tahu apa itu…?
"Hei, bisakah aku mendengar sesuatu darimu??" (Kaito)
"Apa??" (Saijo)
"Seperti yang kamu katakan sebelumnya, jelaskan mengapa kamu menyakiti Momoi?" (Kaito)
Untuk kata-kataku, Saijo menutup matanya.
Lalu perlahan membuka mulutnya.
"Mengapa .... menurutmu aku berada di sekolah ini??" (Saijo)
"Ha..?" (Kaito)
Bukan, bukannya aku tidak penasaran, tapi kenapa pertanyaanku diabaikan…?
"Aku tidak tahu?" (Kaito)
Saat aku menjawab seperti itu, Saijo terlihat sedikit sedih.
Mungkin dia ingin aku memikirkannya dengan benar.
Sambil menghela nafas, Saijo mulai berbicara.
"Pada saat kelulusan, aku harus berada di peringkat pertama dalam peringkat sekolah nomor satu di prefektur-itulah tugas yang aku dapatkan dari rumah ku ... itulah satu-satunya alasan kenapa aku datang ke sekolah ini" (Saijo)
Bagian kedua kalimat itu hampir tidak bisa kudengar karena suara Saijo semakin pelan.
Tapi aku tidak benar-benar ingin mengatakan itu padanya.
Kalau begitu untuk saat ini, mari kita tanyakan saja padanya.
"Tugas??" (Kaito)
"Jika aku tidak memenuhi tugas, Aku akan diusir dari rumah" (Saijo)
Saijo menurunkan pandangannya saat dia mengatakan itu.
"Aku mengerti .... jadi kau bertujuan untuk menghancurkan Momoi karena dia nomor satu saat ini??" (Kaito)
Dia mengangguk pada pertanyaanku.
Apakah begitu…
Aku tidak perlu bertanya apa-apa lagi.
Pasti tujuan orang tuanya untuk membuatnya bersaing di antara para petani untuk mengingatkan mereka tentang siapa yang mereka patuhi, daripada mengirimnya ke sekolah untuk menjadi orang kaya.
Dalam hal itu, sekolah ini, yang berisi sejumlah besar siswa dengan spesifikasi tinggi, pasti sempurna untuknya.
Tapi, itu mengerikan untuk dipikirkan ...
"Bukankah itu lucu? Bukankah itu sesuatu untuk ditertawakan??" (Saijo)
Saijo memaksakan tawa dan mendesakku untuk melakukan hal yang sama.
Ah…aku bisa tahu dengan melihat ekspresinya.
Hatinya sudah lelah.
Aku mulai bertanya-tanya tentang diriku, apakah aku pernah mencoba bekerja untuk meningkatkan statusku di sekolah….
"Aku tidak akan tertawa" (Kaito)
"Eh …??" (Saijo)
Saijo terkejut dengan jawabanku.
"Karena itu Adalah keinginan orang tuamu untuk memberimu kekuatan untuk bertahan hidup dalam masyarakat yang kompetitif dan keras. Aku tidak bisa menertawakan seseorang yang mencoba melakukan itu." (Kaito)
"…hee…..Kanzaki telah berubah…?" (Saijo)
"Haa? kenapa kamu memanggilku dengan namaku??" (Kaito)
"Tidak, Bukan apa-apa!!" (Saijo)
Wajah Saijo tersenyum.
Tapi aku mengeluh pada Saijo.
"Tapi tetap saja, itu hanya sebuah dorongan.... Aku tidak akan mendukung siapa pun yang menggunakan alasan seperti itu untuk menyakiti seseorang" (Kaito)
Saat aku mengatakan itu, Saijo menatap mataku.
"Aku tahu itu. Aku tidak akan melakukan pemikiran seperti itu lagi, aku tidak akan menyentuh Momoi" (Saijo)
Matanya memberitahuku bahwa dia tidak berbohong.
Tentang Momoi–
Bukankah itu berarti dia tidak akan memandang rendah Momoi lagi…?
"Apakah kau percaya padaku??" (Saijo)
"Tentu saja?" (Kaito)
"Begitu, kalau begitu .... Aku tidak peduli lagi" (Saijo)
Memang benar menilai seseorang yang telah banyak memojokkan Momoi akan terasa manis.
Tapi aku pikir akan aneh untuk menolak seseorang yang benar-benar ingin berubah karena itu.
Jika motivasi mereka untuk berubah dihancurkan, mereka mungkin tidak akan berubah lagi.
Mengubah diri sendiri akan membawa pengaruh yang besar bagi orang-orang di sekitarnya.
Aku merasa Saijo ada di antara orang-orang itu sekarang.
"Terima kasih ...." (Saijo)
Saijo tersenyum senang mendengar kata-kataku.
Senyum itu berbeda dari citra menakutkannya sebelumnya, itu lebih cocok untuknya.
"Hei …?" (Saijo)
"Eh??" (Kaito)
Sementara aku berpikir, Saijo sedang mengacak-acak rambutnya di depanku.
Wajahnya sedikit merah.
Dia tiba-tiba mulai berbicara–
"Apakah Kaito berkencan dengan Momoi??" (Saijo)
"Haaaaaaaaaa !??" (Kaito)
"Kyaa–!?" (Saijo)
"Ah….maaf?" (Kaito)
Aku sangat terkejut sehingga aku secara tidak sengaja berteriak.
Tapi sungguh, apa kami terlihat seperti sedang berkencan!?
"Tidak, aku tidak berkencan dengannya, kenapa menurutmu begitu?" (Kaito)
"Itu karena ... kamu bilang pacarku yang berharga? jadi bukan itu masalahnya??" (Saijo)
Ah, itu yang dia maksud…
Apakah dia memahami "keluargaku" yang berharga menjadi sesuatu yang lain.
Yah, kurasa akan aneh jika aku memperlakukan teman sekelas yang normal sebagai keluargaku…
Tapi bahkan setelah menyelidiki masa laluku, dia tidak tahu bahwa Momoi adalah bagian dari keluargaku?
—-ah…mungkin dia fokus pada tahun-tahun sekolah menengahku, dia hanya punya waktu setengah hari dan perubahanku terjadi di sekolah menengah.
Pada saat aku masuk sekolah menengah, aku adalah diriku yang sekarang.
Maa, lebih baik menyelesaikan situasinya dan membiarkannya pergi.
"Itu hanya berarti dia adalah teman yang baik. Aku berhubungan baik dengan imoutonya, jadi aku sering berhubungan dengan Momoi dan menganggapnya sebagai teman." (Kaito)
Aku menjelaskan yang sebenarnya kepada Saijo.
Lebih mudah membuat kebohongan dipercaya jika kau mencampuradukkan beberapa kebenaran.
Lagipula, aku sering makan siang dengan Sakura-chan, jadi aku merasa lebih baik menyelesaikannya di sini daripada membiarkan kesalahpahaman berlanjut.
….Momoi adalah temanku, tidak peduli siapa yang mendengarnya, mereka akan berpikir itu bohong…
Apa aku gagal meyakinkannya…..
"F~un….lalu apa kamu pacaran dengan imouto Momoi??" (Saijo)
Namun Saijo tampaknya mengkhawatirkan hal lain.
Sakura-chan sebagai pacarku….apa yang kau pikirkan?
Apakah dia pikir aku adalah pria yang akan cocok dengan malaikat seperti dia?
Aku memikirkan bagaimana jika aku berjalan berdampingan dengan Sakura-chan.
…ya, tidak peduli seberapa sering kamu melihatnya, itu akan menjadi tidak seimbang…
Maksudku Sakura-chan adalah imouto yang imut dan menggemaskan, jika aku menjadikannya pacarku, itu akan terasa seperti kejahatan.
….tapi memikirkan perubahan setelah satu tahun…
Ups–Aku lupa tentang Saijo.
Dia menatapku aneh karena aku tidak menjawab.
"Tidak, dia seperti imouto bagiku." (Kaito)
"Hm, hmm–?" (Saijo)
Untuk tanggapanku, Saijo membuat suara tidak tertarik.
Namun, dia tidak berhenti memutar-mutar rambutnya dengan jari-jarinya.
Kenapa gadis ini menanyakan ini padaku?
Apakah dia mencari kelemahanku….?
Aku masih waspada terhadap Saijo.
Lalu Saijo–
"Lalu, aku akan bertanya langsung kepadamu, apakah ada orang lain? Apakah ada seseorang yang kamu sukai??" (Saijo)
Dia bertanya kepadaku.
Gadis ini… masih mencari kelemahanku?
"Apakah aku perlu menjawab pertanyaanmu??" (Kaito)
"Eh—kamu punya!??" (Saijo)
Saijo mencondongkan tubuh ke depan untuk mendengarkan kata-kataku.
"T, tidak, aku tidak punya." (Kaito)
Aku dikejutkan oleh keinginan Saijo dan menjawab dengan jujur.
"Ada apa dengan itu! Jangan mengejutkanku seperti itu! Mou~!?" (Saijo)
Saijo mengatakan itu dan tersenyum lega.
Eh?
Untuk gadis ini, haruskah aku mengatakan bahwa dia punyaku?
Mengapa dia begitu lega?
Yah mau bagaimana lagi, aku sudah menjawab dengan jujur.
"Tidak mungkin orang sepertiku memilikinya kan? Lagipula aku tidak berinteraksi dengan banyak gadis" (Kaito)
"Fumu fumu, maka ada kabar baik untuk orang miskin sepertimu!" (Saijo)
Untuk beberapa alasan Saijo berbicara seolah-olah bagian dari drama.
Aku membayangkan anak ini memiliki chuunibyou, dia sangat lucu.
"Apa kabar baiknya…??" (Kaito)
"Fufu~n?" (Saijo)
Waa…Aku benar-benar senang mendengarnya…
Aku tidak pernah berpikir Saijo adalah orang seperti itu ...
"Aku, Saijo Kirara, akan menjadi pacarmu!!" (Saijo)
Dengan mengatakan itu, Saijo meletakkan tangannya di dadanya.
….eh?
Apa yang baru saja dikatakan gadis ini?
….bukankah ini gila?
"Apa yang kamu bicarakan ...??" (Kaito)
—tentu saja reaksiku seperti ini.
Saijo terkejut melihat kata-kataku.
"A, kenapa !? bukankah ini sesuatu yang biasanya membuatmu bahagia!? seorang wanita cantik dan kaya sepertiku mengatakan bahwa dia akan menjadi pacar seorang otaku penyendiri sepertimu!??" (Saijo)
Gadis ini…tidak hanya menyebut dirinya kaya, tapi juga cantik?
….yah, dia pasti wanita yang cantik…
"Aku tidak mengerti, aku tidak bisa mengikuti ucapanmu. Kenapa kamu mau menjadi pacarku??" (Kaito)
"I, itu ...?" (Saijo)
TLN: ingat chapter sblumnya diakan "melakukan itu" kepada cwo yang bisa membuat dia takut. intinya lonte wkwkwk kgk lah canda.
Saijo memalingkan wajahnya yang merah dariku karena malu.
Meskipun hanya ada sedikit istirahat makan siang yang tersisa, aku tidak bisa mendapatkan jawaban yang jelas.
Jadi aku hanya akan menyatakan kesimpulannya.
"Aku tidak mengenal baik dirimu, jadi aku tidak bisa" (Kaito)
Aku anak SMA yang sehat.
Aku juga tertarik padanya.
Bagaimanapun cantiknya mereka, aku tidak akan berkencan dengan seseorang yang tidak kusukai.
Lagipula aku tidak bisa pergi dengannya mengingat apa yang terjadi di masa lalu.
Atas tanggapanku, Saijo jatuh ke tanah.
Tapi dia segera berdiri.
"Kalau begitu, mari kita mulai dengan berteman!?" (Saijo)
Teman…
Aku dikejutkan oleh kata-kata itu, tapi….Saijo…..?
Bisakah aku berteman dengan seseorang yang memojokkan Momoi seperti itu…?
Yah aku tidak peduli lagi…
"Mengerti, maka tidak apa-apa" (Kaito)
Kata-kataku membuat mata Saijo bersinar.
"Betulkah!? Kamu tidak akan menarik ucapanmu kan!??" (Saijo)
"A, ah ....?" (Kaito)
Di bawah tekanan Saijo, aku mengangguk yang membuatnya tersenyum bahagia.
Apa yang di pikirkan gadis ini…?
Aku tidak bisa mengerti dia sama sekali.
Atau lebih tepatnya, aku tidak ingin mengerti ...
Tapi satu hal yang aku mengerti ... adalah bahwa aku telah dilihat oleh orang yang mengganggu ...
Setelah itu, Saijo tidak melepaskanku sampai makan siang selesai–
Sebelumnya | Home | Berikutnya

0 Komentar
Stay with Liscia Novel #Romcom