Angin dingin menggelitik telinganya.
Dia perlahan membuka matanya dan melihat arang, daerah
hangus berpasir terbentang di depan matanya.
“...huh?”
“Oh, kau sudah sadar.”
Dia melihat kearah dimana suara anak itu terdengar, yang mana
suaranya terdengar seperti lamabaian lonceng, datang dari sana, terlihat seorang anak laki-laki berambut pirang duduk diatas batu kecil di depannya.
Tanpa keraguan sama sekali, itu merupakan wujud transformasi
dari naga emas yang ditemui Amalia di dunia iblis.
Dia membawa Amalia ke dunia iblis dan menjelaskan kepadanya
seluk-beluk dari peristiwa mengamuknya naga di gunung---
“Bagaimana perasaanmu? Apakah tubuhmu bekerja dengan baik di
dunia ini?”
“Eh, Ya. Ini kelihatannya baik-baik saja.”
“Itu bagus untuk diketahui.”
Anak laki-laki itu tersenyum cerah dengan wajah manusiannya
yang mempesona.
Fakta kalau dia tetap sepenuhnya telanjang memberikannya
kesan seperti malaikat yang ada pada lukisan religi, seolah-olah seperti cahaya yang bersinar pada arang, di gunung yang penuh dengan jelaga.
(TN: Jelaga )
“...Oh? Dimana ini?”
“Ini adalah gunung yang sama dengan yang kuistirahati
sebelumnya. Apakah ada masalah?”
“Kamu berkata ini tempat yang sama... namun ketika aku pergi kesini sebelumnya, tempat ini sangat panas dan beruap.”
Dia melihat ke sekeliling, tapi disana tidak ada asap yang
mengepul dari tanah atau angin panas yang berhembus. Sebaliknya, sekelilingnya
merupakan daerah gersang seperti bekas ladang yang terbakar, dan bahkan dia
merasakan hembusan udara dingin.
‘Apakah pemandangan
disini berubah sangat drastis ketika aku pergi ke dunia iblis...?’
Mendengarkan perkataan Amalia, anak laki-laki itu menjawab,
“apakah begitu?” Dia membalikkan kepalanya lalu menepuk tangannya.
“Oh, ya. Kamu berkata kalau kamu akan melakukan apapun untuk
berterima kasih padaku kerena telah menyelamatkan hidupmu.”
“Eh, um. Yah, memang.”
“Sekarang bantu aku menjelajahi dunia ini.”
Sang naga menghampiri Amalia yang tertegun dengan senyum
lebar di wajahnya.
“Aku datang ke dunia ini dari Dunia iblis sebelumnya, tapi
aku terlalu mengantuk dan segera tidur setelahnya. Jadi aku tidak tahu banyak
hal mengenai dunia ini. Dalam wujud ini, Aku pikir aku bisa bercampur dengan
manusia, dan aku ingin mengikutimu dan mengamati kehidupan manusia.”
“Mengamati?... apakah naga melakukan sesuatu semacam itu?”
Naga dikatakan jauh lebih pintar dibandingkan iblis lainnya,
tapi dia bertanya-tanya apa ada dari mereka berkeinginan mengambil wujud manusia dan
bergabung ke kota.
Pada pandangan Amalia, anak laki-laki itu memiringkan
kepalanya, sebuah gerakan yang menggemaskan dengan sedikit kesan mengejek.
“Ini tidak seperti aku dilarang. Aku sangatlah tangguh, tapi
aku lebih suka bersenang-senang daripada bertarung. Oleh karena itu, aku ingin
mengikutimu dan menjelajahi dunia ini. Kau bisa mengambil kepemimpinan, dan
memanduku. Aku mau kamu melakukan ini sebagai ucapan terima kasih karena
menyelamatkan nyawamu...apa itu boleh?”
“...A-aku mengerti.”
“Mn. Jawaban bagus!”
Anak laki-laki itu mengangguk dengan puas dan berkata dengan
sombong, “aku tidak membenci orang yang jujur.”
Meskipun dia dalam wujud manusianya, dia tanpa takut berjalan
dengan seorang iblis. Bagaimanapun, Amalia berhutang rasa terima kasih padanya.
‘Dari bagaimana ini
terlihat, dia tidak terlihat terlalu agresif... Aku yakin ini baik-baik saja
untuk membawanya pergi... bukan begitu...?’
Amalia ingin melakukan apa yang dia mampu. Jadi dia tidak punya pilihan lain
selain menerima permintaan ini.
Pertama-tama, mereka perlu menuruni gunung naga ini terlebih
dahulu.
Bagaimanapun, pakaian Amalia terlihat compang-camping
setelah pertarungan, dan anak laki-laki disampingnya sepenuhnya telanjang. “Ini
tidak dingin sama kali.” Katanya. Memang tidak perlu khawatir tentang terkena
demam, tapi Amalia akan benar-benar ditangkap oleh penjaga jika dia membawa
seorang anak yang telanjang.
‘Kita tidak bisa berkeliaran seperti ini, dan tidak mungkin
bebergian jauh dengan penampilan begini...'
“Aku ingin pergi ke kota terlebih dahulu... sebelum itu.
Siapa namamu?”
“Nama? Aku tidak punya sesuatu semacam itu.”
“Yah, aku percaya, kalau itu merupakan sebuah masalah.”
“Namai diriku dengan apapun yang kamu mau. Siapa namamu?”
Bocah ini tampaknya tidak peduli dengan namanya sendiri sama
sekali. Ketika Amalia berhenti, dia berhenti juga, berjongkok ke bawah dan
mulai mengambil lumpur dibawah dikakinya dengan jarinya.
“Namaku adalah Amalia.”
“Amalia, itu terdengar cukup bagus.”
“Terima kasih banyak. Jadi, namamu adalah... bagaimana
kalau, uh, Yugo?”
Yugo adalah nama yang sangat umum bagi laki-laki di kerajaan
Leandra. Jika kau melempar batu di sebuah kota besar, ada kemungkinan yang
besar kalau itu akan mengenai Yugo-san.
Rambut dan matanya berwarna emas, kulitnya berwarna putih,
dan wajahnya sungguh sangat mempesona, mungkin dikarenakan sebelumnya dia merupakan seekor naga emas. Karena dia terlihat unik dalam wujud manusianya,
dia pikir akan lebih baik untuk memberinya nama biasa.
Bocah itu menggumamkan namanya, “Yugo,” mengatakan itu
dengan mulutnya sekali, dia mengangguk dengan puas.
“Aku paham. Sekarang kamu bisa memanggilku Yugo mulai
sekarang.”
“Baiklah...um, sekarang, kau tahu. Kita harus pergi ke kota
untuk mendapatkan persediaan, tapi bagaimana tentang hubungan kita?”
Yugo terlihat berumur sekitar 5 atau 6 tahun. Jika dia
berjalan-jalan dengan seorang anak kecil, mereka sebaiknya membuat sedikit
pengaturan.
“Aku pikir itu akan mudah jika kita mengatakan kalau kita
adalah saudara atau kita dibesarkan di penampungan.”
“Hmm? Kenapa tidak memanggil diri kita sebagai ibu dan anak?”
“Oh, ibu dan anak!?”
Amelia berteriak dengan pernyataan tak terduga ini... Tentu
saja, itu tidak akan terlalu aneh untuk seseorang seperti Amalia yang berusia 21 tahun
untuk mempunyai anak berusia 5 tahun. Tapi tidak terdapat kemiripan sama sekali
diantara mereka. Tapi bertingkah seolah kalau anaknya mirip dengan ayahnya,
sekarang itu dapat dipercaya kalau mereka adalah ibu dan anak yang sedang
berpergian.
‘...Tapi, itu berarti
kalau kamu berada di usiaku, sekarang
kamu seharusnya sudah memiliki anak seusia dia.
Dia dihadapkan pada kenyataan, dan itu sedikit menyedihkan.
Bahwa semua orang di biara adalah perempuan, dan anak-anak akan pergi dari
penampungan ketika mereka sudah berumur 16 tahun. Jadi tidak mungkin bagi
dirinya mampu menemukan hubungan romantis di tempat seperti itu.
Alphonse dan yang lainnya bahkan memanggil Amalia “tua” pada
akhirnya, yang merupakan tanda kalau dia tidak dianggap sebagai bagian dari
lawan jenis meskipun dia memasuki party yang dipenuhi laki-laki yang seumuran
dengannya.
“..yah, itu bukanlah tidak mungkin. Oh, tapi apakah naga
tumbuh?”
“Hmm? Ya, tentu saja kami akan tumbuh. Namum itu sedikit lebih
lambat daripada manusia, tapi jangan khawatir soal itu, karena aku akan
mengurusnya sendiri.”
Meskipun dia diberitahu untuk tidak khawatir tentangnya, dia
tetap gelisah, tapi sekarang bukan waktunya untuk berdebat tentang ini dan itu.
“Aku mengerti... kelihatannya hubungsn antara ibu anak
terdengar lebih baik.”
“Bukankah memang begitu? Mulai sekarang dan seterusnya, kau
akan menjadi ibuku.”
Tapi Amalia, seseorang yang belum pernah dipanggil Mama sebelumnya, tertawa dan mengangkat bahunya.

0 Komentar
Stay with Liscia Novel #Romcom